Bagaimana Sejarah Candi Borobudur yang Menakjubkan?
Pendahuluan
Candi Borobudur adalah salah satu keajaiban arsitektur yang sangat mengesankan dan menjadi ikon budaya Indonesia. Terletak di tengah kesuburan Pulau Jawa, tepatnya di Magelang, candi ini dianggap sebagai salah satu monumen Buddha terbesar dan terindah di dunia. Dengan sejarah yang kaya dan desain yang rumit, Candi Borobudur tidak hanya menarik perhatian wisatawan, tetapi juga para sejarawan dan peneliti dari seluruh dunia. Artikel ini akan membahas secara mendalam sejarah Candi Borobudur, mulai dari pembangunan, pengaruhnya, hingga pelestarian yang dilakukan saat ini.
Sejarah Candi Borobudur
1. Asal Usul
Borobudur dibangun pada abad ke-8 hingga 9 Masehi saat pemerintahan Dinasti Syailendra. Candi ini didirikan oleh raja-raja Syailendra yang terkenal dengan penganut Buddha Mahayana. Menurut beberapa sumber, pembangunan candi ini memakan waktu tidak kurang dari 75 tahun. Sebagai sebuah monumen agama, Borobudur dirancang untuk menjadi tempat ziarah bagi umat Buddha.
2. Konsep Arsitektur
Arsitektur Candi Borobudur menggambarkan filosofi Buddhisme yang dalam. Candi ini dibangun dalam bentuk stupa dan dikelilingi oleh 504 arca Buddha yang tersebar di sepanjang selasar dan stupas. Terdapat tiga tingkat struktur Candi Borobudur:
- Tingkat Dasar: Di mana pengunjung dapat melihat 160 relief yang menceritakan ajaran moral dan kehidupan Buddha.
- Tingkat Tengah: Merupakan penggambaran jalan menuju pencerahan, di mana terdapat 320 arca Buddha.
- Tingkat Atas: Dipenuhi dengan stupas yang melambangkan kesucian dan puncak spiritual.
3. Fungsi dan Penggunaan
Candi Borobudur memiliki fungsi utama sebagai tempat ibadah dan pendidikan. Selain sebagai lokasi ziarah bagi penganut Buddha, candi ini juga menjadi pusat pembelajaran Buddha. Relief-relief yang ada juga berfungsi sebagai sarana untuk menjelaskan ajaran-ajaran Buddha kepada umat.
Candi Borobudur dalam Sejarah
1. Masa Kejayaan
Pada masa keemasannya, Candi Borobudur adalah salah satu pusat alim agama dan budaya di Asia Tenggara. Candi ini digunakan oleh masyarakat lokal bukan hanya untuk beribadah, tetapi juga sebagai tempat pertemuan untuk diskusi dan pembelajaran.
2. Penurunan dan Penemuan Kembali
Setelah abad ke-14, Borobudur mengalami penurunan fungsional. Hal ini disebabkan oleh adanya pergeseran kekuasaan, munculnya agama Islam di Indonesia, serta bencana alam seperti letusan Gunung Merapi. Candi ini pun tertimbun oleh abu vulkanik dan hutan yang lebat, sehingga tidak banyak orang yang mengetahui keberadaannya hingga ditemukan kembali pada abad ke-19.
Penemuan kembali Candi Borobudur dilakukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Inggris di Jawa pada tahun 1814. Ia sangat terkesan dengan candi ini dan berupaya untuk melakukan restorasi.
3. Proses Pemugaran
Pemugaran Candi Borobudur dimulai pada tahun 1907 hingga 1911 yang dipimpin oleh arsitek Belanda, van Erp. Proses ini melibatkan ribuan batu yang dibongkar dan dipasang kembali untuk mengembalikan kemegahan candi. Upaya ini menjadi langkah awal pelestarian candi yang terus berlanjut hingga kini.
Arsitektur dan Desain yang Menakjubkan
Candi Borobudur memiliki desain arsitektur yang dinamis dan estetis. Terdapat beberapa elemen penting dari arsitektur Candi Borobudur:
1. Relief dan Arca
Relief-relief di Candi Borobudur menggambarkan ajaran Buddha, serta kehidupan sehari-hari masyarakat pada masa itu. Setiap relief yang ada memiliki makna tersendiri dan memberikan wawasan tentang budaya dan nilai-nilai yang dianut masyarakat. Misalnya, ada relief yang menggambarkan kisah kehidupan Siddhartha Gautama (Buddha) yang menunjukkan perjalanan menuju pencerahan.
2. Stupa
Stupa adalah elemen penting dalam arsitektur Candi Borobudur. Stupa yang ada di puncak candi melambangkan pencapaian spiritual tertinggi. Terdapat 72 stupa yang dikelilingi oleh patung Buddha yang tersembunyi, memberikan kesan misterius dan mendalam bagi pengunjungnya.
3. Tata Letak
Pola sirkulasi di dalam Candi Borobudur dirancang sedemikian rupa sehingga pengunjung dapat merasakan perjalanan spiritual yang sejalan dengan konsep “mandala”. Pengunjung diajak untuk bergerak dari tingkat bawah ke tingkat atas, mengikuti tahapan-tahapan pencapaian spiritual yang dirancang oleh arsitek.
Pelestarian Candi Borobudur
Candi Borobudur telah mendapat pengakuan dunia sebagai Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1991. Langkah ini mendorong tindakan pelestarian yang lebih intensif. Pelestarian Candi Borobudur mencakup beberapa upaya berikut:
1. Restorasi dan Perawatan
Setelah terdaftar sebagai Warisan Dunia, Borobudur terus mendapatkan perhatian dari pemerintah Indonesia dan organisasi internasional. Beberapa fase restorasi dilakukan untuk menjaga struktur dan keutuhan candi dari kerusakan akibat cuaca dan bencana alam.
2. Pendidikan dan Kesadaran
Pentingnya pendidikan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang nilai-nilai Candi Borobudur tidak bisa diabaikan. Program edukasi dilakukan di sekolah-sekolah dan komunitas sekitar untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air dan warisan budaya.
3. Pariwisata Berkelanjutan
Candi Borobudur juga menjadi magnet pariwisata. Program kunjungan yang dikelola dengan baik menjaga keseimbangan antara peningkatan ekonomi lokal dan pelestarian lingkungan serta budaya. Pengunjung diharapkan untuk menghormati nilai-nilai budaya dan menjaga kebersihan di area candi.
Kesimpulan
Candi Borobudur tidak hanya sekadar bangunan monumental, tetapi juga simbolisasi spiritual dan kelestarian budaya. Sejarahnya yang kaya memberikan wawasan yang dalam tentang peradaban masyarakat masa lalu dan nilai-nilai yang dianut. Kini, Borobudur tidak hanya menjadi tujuan wisata, tetapi juga menjadi tempat belajar, penghayatan, dan refleksi bagi banyak orang. Upaya pelestarian yang terus dilakukan menunjukkan pentingnya menjaga warisan budaya agar dapat dinikmati generasi mendatang.
FAQ
1. Apa yang membuat Candi Borobudur unik?
Candi Borobudur unik karena arsitekturnya yang megah, filosofi spiritual yang mendalam, dan relief-reliefnya yang menggambarkan ajaran dan kehidupan Buddha.
2. Kapan Candi Borobudur ditemukan kembali?
Candi Borobudur ditemukan kembali pada tahun 1814 oleh Sir Thomas Stamford Raffles.
3. Apa yang harus dilakukan pengunjung saat berkunjung ke Candi Borobudur?
Pengunjung diharapkan untuk menghormati tempat ibadah ini, menjaga kebersihan, serta mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pengelola candi.
4. Bagaimana upaya pelestarian Candi Borobudur?
Upaya pelestarian meliputi restorasi fisik, pendidikan bagi masyarakat lokal, dan pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan.
5. Apakah Candi Borobudur memiliki pengaruh pada budaya Indonesia?
Ya, Candi Borobudur memiliki pengaruh besar terhadap budaya Indonesia, terutama dalam agama Buddha, seni, dan sejarah arsitektur.
Dengan setiap lapisan detail yang dimilikinya, Candi Borobudur tetap menjadi salah satu keajaiban dunia yang memukau dan sarana pembelajaran yang tak ternilai untuk generasi mendatang.
